Donna Retty M Timboeleng
ABSTRAK
Kalimat imperatif adalah konstruksi yang digunakan untuk menyampaikan perintah, anjuran, larangan, atau ajakan dalam bahasa lisan maupun tulisan. Dalam bahasa Jerman, imperatif memiliki karakteristik morfologi dan sintaksis yang khas, dipengaruhi oleh ragam persona (du, ihr, Sie) dan nuansa yang formal. Tulisan ini bertujuan untuk membahas dan mendeskripsikan bentuk, fungsi, serta struktur sintaksis kalimat imperatif bahasa Jerman melalui pendekatan deskriptif-kualitatif. Analisis meliputi aspek morfologi, sintaksis, dan pragmatik, serta disertai pohon struktur kalimat sebagai representasi sintaksis. Hasil analisis menunjukkan bahwa imperatif bahasa Jerman memiliki sistem yang kompleks namun sistematis, sehingga memerlukan perhatian khusus dalam pembelajaran bahasa Jerman sebagai bahasa asing. Analisis didukung data contoh dan kajian pustaka relevan.
Kata kunci: imperatif, bahasa Jerman, sintaksis, morfologi, pragmatik
1. PENDAHULUAN
Bahasa adalah sistem simbol yang berfungsi sebagai alat komunikasi (Hockett, 1958). Salah satu bentuk ujaran dalam bahasa adalah kalimat imperatif, yang fungsinya berbeda dengan deklaratif atau interogatif. Dalam konteks pembelajaran bahasa asing, penguasaan imperatif sangat penting karena sering digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Dalam bahasa Jerman (Deutsch), imperatif menunjukkan hubungan khas antara pembicara (Sprecher) dan penerima ujaran atau pendengar (H) yang dipengaruhi oleh tingkat keformalan dan jumlah orang yang dituju.
Pembelajar bahasa Jerman sebagai bahasa asing (Deutsch als Fremdsprache/DaF) sering mengalami kesulitan dalam menggunakan kalimat imperatif secara tepat, terutama terkait konjugasi verba, penggunaan persona, dan tingkat kesopanan. Oleh karena itu, kajian linguistik terhadap imperatif bahasa Jerman menjadi penting baik secara teoretis maupun pedagogis.
Tulisan ini mengeksplorasi aspek linguistik dan pedagogis dari kalimat imperatif bahasa Jerman sebagai kontribusi terhadap studi bahasa dan pengajaran bahasa.
2. LANDASAN TEORI
2.1 Kalimat dan Tipe Ujaran
Kalimat menurut Radford (2004) adalah satuan bahasa yang lengkap secara semantik dan sintaksis. Menurut Comrie (1989), imperatif adalah bentuk gramatikal yang secara prototipikal digunakan untuk memberi perintah langsung Dalam Pragmatik, ujaran imperatif termasuk dalam kategori speech acts di mana maksud utamanya adalah memengaruhi tingkah laku penerima ujaran (Searle, 1976). Dalam kajian pragmatik, perintah bisa berbentuk langsung maupun tidak langsung, tergantung konteks sosial dan hubungan antarpenutur.
2.2 Imperatif dalam Tata Bahasa
Imperatif didefinisikan sebagai bentuk kata kerja yang digunakan untuk menyatakan perintah, permintaan, atau ajakan (Comrie, 1989). Dalam berbagai bahasa, bentuk imperatif berbeda secara morfologis dari bentuk deklaratif biasa, terutama dalam penggunaan persona kedua.
3. TEORI IMPERATIF DALAM BAHASA JERMAN
3.1 Konsep dan Karakteristik
Dalam bahasa Jerman, imperatif (der Imperativ) biasanya digunakan tanpa subjek eksplisit untuk perintah langsung. Bentuknya beragam sesuai persona:
du (informal tunggal),
ihr (informal jamak),
Sie (formil tunggal/jamak),
3.2 Fungsi Sosial
Imperatif mencerminkan hubungan sosial. Penggunaan du lebih akrab, sedangkan Sie menunjukkan kesopanan atau formalitas (Helbig & Buscha, 2001).
4. STRUKTUR DAN PEMBENTUKAN IMPERATIF
4.1 Imperatif untuk Du
Bentuk dasar dibentuk dari dasar verba tanpa subjek:
Contoh:
Komm! (Datang!)
Mach die Tür zu! (Tutup pintunya!)
Hör mir zu! (Dengarkan aku!)
Analisis Linguistik
Secara morfologis, bentuk komm, mach, hör berasal dari verba infinitif kommen, machen, hören. Dalam imperatif persona du, subjek dihilangkan dan verba muncul dalam bentuk dasar tanpa akhiran persona -st. Secara sintaksis, verba menempati posisi awal kalimat (V1), yang merupakan ciri utama kalimat imperatif bahasa Jerman. Secara pragmatik, kalimat ini bersifat langsung dan menunjukkan hubungan sosial yang akrab antara penutur dan mitra tutur (Sprecher und Hörer) (Helbig & Buscha, 2001).
4.2 Imperatif untuk Ihr
Untuk persona jamak (ihr), bentuknya adalah bentuk ihr tanpa subjek:
Kommt! (Datanglah kalian!)
Hört zu! (Dengarkan!)
Schreibt die Antwort! (Tulislah jawabannya!)
Setzt euch! (Duduklah kalian!)
Analisis Linguistik
Imperatif ihr menggunakan bentuk verba yang identik dengan konjugasi persona ihr pada kalimat deklaratif, namun tanpa penyebutan subjek. Bentuk kommt, hört, schreibt, setzt mempertahankan akhiran -t, yang membedakannya dari imperatif du. Dari sisi semantik, imperatif ini ditujukan kepada lebih dari satu pendengar dengan tingkat keformalan rendah (Duden, 2016).
Analisis sintaksis (pohon kalimat):
Kalimat ini memiliki struktur dasar:
Kalimat (S)
Predikat (V): kommt
Keterangan (AdvP): hier
Secara sintaksis, verba berada pada posisi awal (V1), ciri khas imperatif bahasa Jerman.
Analisis pragmatik:
Kalimat bersifat langsung dan digunakan dalam hubungan sosial informal.
4.3 Imperatif Formal – Sie
Dalam konteks formal, digunakan bentuk Sie lengkap dengan subjek:
Kommen Sie bitte herein! (Silakan datang!)
Warten Sie einen Moment! (Mohon tunggu sebentar)
Füllen Sie dieses Formular aus! (Silakan mengisi formular ini)
Analisis Linguistik
Analisis sintaktis:
S
V: kommen
NP (Subjek): Sie
AdvP: bitte
AdvP: herein
Analisis pragmatik:
Penggunaan bitte menurunkan daya imperatif dan meningkatkan kesopanan (Leech, 1983).
Berbeda dengan imperatif du dan ihr, imperatif Sie secara sintaktis menyerupai kalimat deklaratif karena subjek Sie tetap hadir. Namun, fungsi ilokusi kalimat ini tetap bersifat direktif. Penambahan adverbia bitte berfungsi sebagai strategi kesopanan untuk mengurangi kekuatan perintah (Leech, 1983).
5. NEGASI IMPERATIF
Imperatif negasi dibentuk dengan nicht atau kein tergantung konteks verba dan objek:
Nicht untuk melarang aksi:
Nicht lachen! (Jangan tertawa!)
Nicht sprechen (jangan berbicara)
Komm nicht zu spat (Jangan datang terlambat)
Digunakan untuk melarang tindakan
Analisis Linguistik
Negasi imperatif dalam bahasa Jerman menggunakan partikel nicht yang ditempatkan setelah verba. Secara sintaksis, struktur ini mempertahankan posisi verba di awal kalimat, sementara nicht berfungsi sebagai penyangkal predikasi verbal. Secara pragmatik, bentuk ini menyatakan larangan langsung dengan intensitas tinggi (Helbig & Buscha, 2001).
Analisis sintaksis:
S
V: komm
Neg: nicht
AdvP: zu spät
Negasi menolak tindakan yang dinyatakan verba.
Kein digunakan untuk menolak objek:
Nimm kein Brot! (Jangan ambil roti!)
Iss kein Eis! (Jangan makan es!)
Trink kein Bier! (Jangan minum bir!)
Gib kein Geld! (Jangan berikan uang)
Digunakan untuk melarang objek benda
Analisis Linguistik
Negasi menggunakan kein diterapkan ketika objek berupa nomina tanpa artikel definit. Secara semantik, larangan diarahkan bukan pada tindakan mengambil, tetapi pada objek yang diambil. Hal ini membedakan fungsi kein dari nicht dalam imperatif (Swan & Walter, 2001).
6. NUANSA KESOPANAN DAN STRATEGI PERMINTAAN
6.1 Derajat Formalitas
Permintaan dapat diperlunak dengan kata-kata seperti bitte:
Bitte komm! (Tolong datang!)
Bitte sprechen Sie langsam! (Tolong berbicara perlahan)
Penggunaan bitte mengubah perintah menjadi permintaan yang lebih sopan secara pragmatik (Leech, 1983).
6.2 Strategi Perubahan Ujaran
Permintaan tidak selalu secara langsung; bisa melalui Modalverben:
Kannst du mir bitte helfen? (Dapatkah kamu membantuku?)
Kannst du Morgen zuruck kommen?(Dapatkah kamu datang kembali besok?)
Kannst du das Fenster aufmachen?(Dapatkah kamu membukakan jendela?)
Ini termasuk imperatif tidak langsung.
7. VARIASI MORFOSINTAKSIS DAN KASUS ISTIMEWA
7.1 Verba Tak Beraturan
Beberapa verba mengalami perubahan vokal dalam imperatif:
Lies! (Bacalah!) dari lesen.
Iss! (Makanlah) dari essen.
Ini sejalan dengan pola vokalisasi dalam akar verba.
8. TANTANGAN PEMBELAJARAN
8.1 Kesalahan Umum
Pembelajar sering:
Salah memilih persona (du vs Sie).
Menggunakan bentuk yang salah (memasukkan akhiran -st yang tidak perlu).
Kesulitan dalam negasi.
8.2 Strategi Pengajaran
Role-play situasi sehari-hari.
Drills bentuk imperatif.
Kontras dengan bahasa ibu pembelajar untuk menunjang transfer positif struktur.
9. KESIMPULAN
Kalimat imperatif dalam bahasa Jerman adalah konstruksi linguistik yang kaya, melibatkan variasi bentuk berdasarkan persona dan formalitas. Penguasaan imperatif penting dalam komunikasi fungsional sehari-hari dan menuntut pemahaman morfologi, sintaksis, pragmatik, serta sensitivitas situasi sosial. Dalam konteks pedagogis, latihan kontekstual, kesadaran formalitas, dan kajian perbandingan bahasa adalah kunci keberhasilan pembelajaran.
DAFTAR PUSTAKA
Comrie, Bernard. Language Universals and Linguistic Typology. University of Chicago Press, 1989.
2. Dudenredaktion. Duden – Die Grammatik. 9th ed., Dudenverlag, 2016.
Helbig, Gerhard, dan Joachim Buscha. Deutsche Grammatik: Ein Handbuch für den Ausländerunterricht. Langenscheidt, 2001.
Hockett, Charles F. A Course in Modern Linguistics. Macmillan, 1958.
Leech, Geoffrey N. Principles of Pragmatics. Longman, 1983.
Radford, Andrew. Syntax: A Minimalist Introduction. Cambridge University Press, 2004.
Swan, Michael & Catherine Walter. The Good Grammar Book. Oxford University Press, 2001.
Teschner, Richard V. German Grammar Drills. McGraw-Hill, 2009.





